Temuan Gemilang Anak Semarang

23 09 2008

irvan.rosyandi

Temuan Gemilang Anak Semarang

Lima Bulan, Kumpulkan Tiga Award Internasional
Heni Rachmawati, Penemu Obat Lever dengan Sistem Bertarget

Seorang dosen farmasi ITB berhasil mengembangkan obat antifibrosis dengan
sistem bertarget. Ini sebuah sumbangan berharga bagi pengobatan pasien
fibrosis hati di seluruh dunia.

TIDAK mudah mencari keberadaan Heni Rachmawati di ITB. Sebab, di kalangan
mahasiswa, nama Heni memang belum banyak dikenal. Maklum, sejak 2001, dia
sudah berada di Belanda untuk mengambil program doktor di Universitas
Groningen.

Di balik kesederhanaannya, ternyata dosen ITB itu baru saja menghasilkan
karya spektakuler di bidang farmasi. Dia menemukan antifibrosis dengan
sistem bertarget, obat untuk penyakit hati kronis yang salah satunya
disebabkan infeksi hepatitis virus C.

Temuan Heni tersebut merupakan hasil riset disertasinya di salah satu
universitas terkemuka di Negeri Kincir Angin itu. Judul disertasinya ialah
The Design of A Liver-Selective Form of Interleukin- 10: a New Strategy for
The Treatment of Liver Fibrosis. ”Ini merupakan hal baru karena sebelumnya
belum pernah ada,” kata Heni saat ditemui di Kampus ITB kemarin.

Penemuannya itu direspons gembira oleh kalangan farmasi di berbagai negara.
Bahkan, dengan karya fenomenal tersebut, perempuan kelahiran 12 Desember
1969 itu mendapat tiga penghargaan internasional secara beruntun. Pada
Februari 2005, Heni mendapat penghargaan dari National Institutes of Health
Amerika. ”Saya juga sudah diundang presentasi tentang temuan saya di
sana,” ujarnya.

Penghargaan berikutnya diperoleh Heni dari European Association for The
Study of The Liver (EASL) Paris, Prancis, pada April 2005. Pada Juni 2005,
Heni kembali meraih penghargaan atas temuannya itu dari International
Society of Nephrology di Singapura.

Karena kesibukannya menghadiri undangan dari berbagai lembaga internasional,
Heni baru 15 Juni lalu pulang ke Indonesia dan kembali aktif mengajar di ITB
awal Juli lalu. ”Tapi, saya baru mengajar bulan Agustus untuk mata kuliah
teknologi farmasi sediaan solida,” kata perempuan yang menjadi dosen
farmasi ITB sejak 1998 itu.

Seperti apa penemuan Heni itu? Menurutnya, awalnya, dia ingin mengambil
penelitian tentang liposom (salah satu sistem penghantaran obat). Tetapi
saat itu, yang paling siap adalah laboratorium tentang drug targeting.
Apalagi dia terus didorong promotornya, Prof Klass Poelstra, guru besar
bidang farmasi di University of Groningen.

Di dunia, fibrosis di hati menjadi penyebab kematian terbesar ke-8 setelah
penyakit jantung, kanker, diabetes, gagal ginjal, dan sebagainya. ”Yang
memprihatinkan, obatnya yang aman bagi manusia belum ditemukan,” kata
perempuan lulusan S-2 Farmasi ITB itu.

Food and Drug Administration (FDA) -semacam Balai Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM)- di Amerika Serikat, misalnya, hingga saat ini belum
mengeluarkan rekomendasi obat antifibrosis di hati yang aman bagi pasien.

Sekadar informasi, biasanya, setelah 15 tahun terindikasi hepatitis, pasien
akan mengalami fibrosis (hepatitis kronis). Proses selanjutnya, pasien bisa
mengalamai sirosis (hati berwarna kuning dan keras). Bila tidak mendapat
pengobatan yang tepat dan baik, pasien berpotensi menderita hepatocarcinoma
(kanker hati).

Kalau sudah demikian, lanjutnya, harus dilakukan pencangkokan hati. Nah,
yang dilakukan Heni adalah mengembangkan terapi yang mampu menurunkan
fibrosis di hati dan menghambat berkembangnya sirosis. Beberapa peneliti
sebelumnya memang telah mencoba meneliti obat untuk penyakit ini, tapi belum
menunjukkan hasil yang sempurna. Sebab, masih banyak menimbulkan efek
samping yang sangat berbahaya.

Heni sebenarnya meneruskan penelitian pendahulunya dengan memodifikasi obat
interleukin- 10 atau IL-10. Ini merupakan protein berbobot molekul rendah
(18.5 kDa) yang mempunyai profil farmakokinetik kurang baik untuk
penyembuhan pasien yang sudah parah kondisinya. Sebab, waktu paruhnya dalam
darah sangat rendah dan sangat cepat dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal.

Heni memodifikasi IL-10 itu dengan Mannose 6 phosphate atau M6P, sebuah
senyawa gula, yang merupakan ligan spesifik untuk reseptor yang banyak
terdapat di hati. Bentuk yang dihasilkan dari modifikasi tersebut dinamakan
M6P-IL-10.

”Jika disuntikkan ke pasien fibrosis hati, M6P-IL-10 akan cepat terkumpul
di hati, dan hanya bagian kecil di organ lain sehingga dapat menekan efek
samping pada organ lain tersebut,” kata perempuan kelahiran Semarang, Jawa
Tengah, itu.

Untuk membuktikan temuannya tersebut, Heni mengujinya pada tikus. Ada empat
kelompok tikus. Masing-masing grup terdiri atas lima tikus. Grup I adalah
tikus yang diindikasi fibrosis dan dibiarkan tidak diobati. Grup kedua yakni
tikus yang menderita fibrosis dan diberi suntikan IL-10.

Grup ketiga adalah tikus yang terindikasi fibrosis dan diberi M6P-IL-10. Dan
grup keempat adalah tikus yang sehat. ”Suntikan IL-10 dan M6P-IL-10
diberikan selama tiga hari (dari hari ke-4 sampai hari ke-6 setelah tikus
diinduksi fibrosis hati). Pada hari ketujuh, semua tikus pada ke-4 grup
tersebut dikorbankan. Selanjutnya, hati dan darahnya diambil untuk diperiksa
di lab,” katanya.

Bagaimana hasilnya? Tikus-tikus di grup kedua dan ketiga -jika dibandingkan
dengan grup pertama- mengalami peningkatan kesehatan. Dan antara grup kedua
dan ketiga, ada perbedaan yang cukup bermakna. ”Peningkatan kesehatan tikus
di grup ketiga jauh lebih baik daripada grup kedua,” kata istri Ikhlasul
Amal yang juga alumnus ITB itu.

Heni sangat yakin, obat tersebut juga efektif jika diberikan kepada manusia.
Hanya, untuk mencobanya, membutuhkan proses yang tidak cepat. Harus mendapat
izin dari berbagai pihak, terutama pihak kampusnya di Belanda. ”Ini bisa
diberikan kepada penderita fibrosis atau bisa juga untuk pasien hepatitis
akut untuk mencegah agar tidak menjadi fibrosis. Tapi, saya tidak berani
menyebut keberhasilannya 100 persen. Tetap perlu studi lanjutan,” katanya.

Untuk melakukan penelitian itu, Heni membutuhkan waktu 3,5 tahun, dari 2001
hingga Oktober 2004. Hasil penelitian tersebut disusun dalam sebuah
disertasi. ”Saya dinyatakan lulus sebagai PhD pada Juni 2005,” kata
penggemar bulutangkis itu.

Saat kuliah di Belanda, suami dan kedua anaknya, Farras Rayhan, 9, dan
Safira Prisya, 8, turut serta ke Belanda. Karena cukup lama di sana, Heni
dan keluarganya juga fasih berbahasa Belanda. ”Anak-anak saya lebih pintar
berbahasa Belanda daripada berbahasa Indonesia. Sekarang butuh penyesuaian
untuk sekolah di Bandung,” papar penerima beasiswa dari Islamic Development
Bank (IDB) itu.

Bagi Heni, bukan hal yang mudah kuliah sambil mengasuh dua anak yang masih
kecil-kecil. Meski hampir empat tahun berada di Eropa, Heni tetap memanjakan
keluarganya dengan masakan Indonesia. ”Saya selalu masak sendiri. Mulai
dari soto, opor, sambel goreng, dan sebagainya. Kami kurang cocok dengan
masakan Belanda,” ungkapnya.

Di tengah kesibukannya kuliah dan menjadi ibu rumah tangga, Heni juga sempat
aktif di berbagai organisasi. Termasuk ikut PPI (Perhimpunan Pelajar
Indonesia). ”Saya pernah juara badminton tunggal dan ganda putri
antarpelajar Indonesia di sana. Waktu itu, kejuaraannya di kota
Maastricht,’ ‘ katanya.

Bukan hanya dengan pelajar Indonesia, Heni juga aktif dalam organisasi
pelajar asing di Belanda, yakni Foreign Guest Club. ”Kegiatannya mulai
mengunjungi museum-museum hingga ice skating,” kata lulusan pendidikan
apoteker ITB, 1994, itu.

Tapi sukses besar Heni ini harus dilalui dengan cobaan yang tak kalah
besarnya. Ibundanya tercinta, Ruslika, meninggal ketika studinya S3-nya baru
separuh jalan. “Ibu saya meninggal dua tahun lalu sewaktu saya menyelesaikan
S3 saya di Groningen. Almarhumah ibu saya adalah wanita sejati,” tutur
wanita muda berotak brilian ini. Ayahnya, Letkol G. Karsono, seorang
purnawirawan TNI dan terakhir berkantor di Pangdam VII Diponegoro Semarang,
juga telah lebih dulu meninggal.

Ayah ibu Heni tak sempat menyaksikan temuan puterinya yang bermanfaat bagi
kemanusiaan ini. Namun jutaan manusia, terutama penderita fibrosis hati,
kelak akan menyaksikannya dan merasakan manfaatnya

Ternyata kesuksesan itu tidak mesti muncul dari kalangan berada, namun dari
kondisi penuh keterbatasan justru muncul anak-anak bangsa yang sukses. Hal
ini dapat penulis ketahui dari kehidupan langsung keluarganya di Cempolorejo
IV/16 Semarang yang terdiri dari 8 bersaudara (Agus, Tri Indiaswati,SH,
Ir.Sri Wahyono, Sri Hastuti, SE, Heni R, PhD, Joko S, Budi, Supriyatno,ST)

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___


Actions

Information

One response

26 09 2008
yuni

kanker hati bisa jadi hambatan bagi aktivitas anda…
http://melilea-organik.com/hati/kanker-hati-penyakit-ganas.html

Leave a comment