Mulai sabtu 11 oktober cuaca surabaya tidak sama seperti biasanya. setelah hari sebelumnya hujan beberapa jam. hari ini suhu udara begitu panas. Bahkan aku dijalan sempat habis 4 gelas minuman hanya untuk keluar gebang – karangmenjangan. Di belakang delta minum 2 gelas di depan kedokteran minum 1 gelas trus di depan kos minum 1 gelas. Total = 8000 rupiah habis untuk minum. Belum pernah merasakan suhu sepanas ini. setelah membaca surat kabar ternyata suhunya pernah mencapai 39 derajat selsius.
Berikut berita2 yang berhubungan dengan fenomena tersebut :
http://jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=30597

“Saat ini, bisa dikatakan posisi matahari tepat ada di atas Pulau Jawa. Maka, karena letaknya dekat, panas matahari langsung terasa,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMG Juanda Endro Tjahjono kemarin (19/10).
Dia menjelaskan, saat ini, matahari bergerak semu dari arah katulistiwa menuju garis lintang selatan (LS). Fenomena itu terjadi menjelang pergantian musim dari kemarau menuju penghujan. Posisi matahari diperkirakan ada di 6-7 derajat LS, persis dengan derajat lintang sebagian wilayah Jatim, terutama Surabaya. “Selain itu, posisi bumi dan matahari berada dalam titik terdekat. Maka, kondisinya lebih panas jika dibandingkan sebelum-sebelumnya,” kata Endro.
Mengapa suhu saat malam juga masih tinggi? Prakirawan cuaca BMG Tanjung Perak Arif Triono menjelaskan, kondisi itu juga disebabkan jarak bumi-matahari yang dekat. “Saat siang, panas matahari terserap ke bumi. Pada malam, panas itu keluar. Makanya, suhu tetap tinggi,” kata Arif.
Arif menjelaskan, cuaca yang panas biasanya diikuti penurunan kadar oksigen. Akibatnya, udara menjadi kurang sehat. “Kadar karbon yang kurang baik bagi kesehatan makin tinggi. Apalagi untuk kota seperti Surabaya yang tingkat polusinya masih tinggi,” jelasnya.
Tak hanya itu, kemarau yang panas juga disertai peningkatan kadar debu dalam udara. Kualitas air pun menurun. “Air menjadi kurang sehat. Belum lagi jika kondisi air sudah tercemar. Karena itu, masyarakat harus benar-benar mengantisipasi hal ini,” ujarnya.
Hentikan Pemanasan Global
Sementara itu, terus meningkatnya suhu udara pada musim kemarau mendapat perhatian berbagai kalangan. Salah satunya dari Global Art Indonesia. Kemarin (19/10) lembaga kursus menggambar tersebut mengadakan kampanye melawan pemanasan global dengan cara unik di Le Ballroom, Pakuwon City.
Mereka mengadakan Pre-National Drawing Competition yang diikuti sekitar 550 anak dengan tema Stop Global Warming. Kompetisi tersebut dibagi menjadi empat kelompok sesuai umur. Kelompok A (4-6 tahun), B (7-9 tahun), C (10-12 tahun), dan D (13 tahun ke atas).
Lombanya pun dibedakan. Kelompok A dan B lebih ke arah mewarnai. Karena itu, kertas yang digunakan untuk perlombaan sudah ada clue-nya (petunjuk). Mereka tinggal menggabungkan titik-titik di beberapa gambar. Setelah itu, baru diwarnai. Namun, peserta tetap diperbolehkan untuk menambah gambar sesuai kreativitasnya. ”Dilihat dari umur, mereka kan masih perlu dibimbing,” kata pimpinan Global Art Indonesia Timur Lilik Y. Prayugo.
Untuk kelompok C dan D, kertas yang disediakan benar-benar kosong. Jadi, mereka harus menggambar dari awal. Temanya ajakan untuk mengurangi pemanasan global. Para pemenang lomba itu akan mengikuti lomba yang sama tingkat nasional di Jakarta pada 1 November.
Setelah menyelesaikan gambar, anak-anak disuguhi operet maskot festival dengan judul yang sama, Stop Global Warming. Selama 30 menit, mereka dihibur cerita tentang pentingnya menjaga alam yang diperagakan oleh penari Gucci Dance Academy.
Di akhir acara, seluruh peserta berkumpul di halaman Le Ballroom sambil membawa balon berwarna hijau bertulisan Stop Global Warming. Lalu secara bersamaan, balon tersebut dilepaskan ke udara. Saat itu, sorak-sorai anak-anak tercipta. ”Ini sebagai tanda bahwa kami sangat mendukung kampanye menanggulangi dampak pemanasan global,” tegas Lilik.(ris/jan/fat)
Steven Lenakoly - detikSurabaya

Suasana di Juanda/Budi Sugiarto
“Siklus ini terjadi sekali dalam setahun ketika pergerakan matahari tepat berada di atas equator Indonesia,” kata prakirawan BMG Juanda Taufik kepadadetiksurabaya.com saat dihubungi lewt telepon.
Sementara pada pukul 12.00 WIB nanti, kata Taufik, cahaya matahari di atas kepala kita dan tidak akan menimbulkan bayangan.
Menurut dia, akibat fenomena alam ini suhu udara lebih panas. Suhu mencapai angka 37 derajat Celcius dan ditambah dengan tidak adanya awan. Puncaknya mulai pukul 12.00 WIB hingga 13.00 WIB.
“Sinar matahari terik tidak ada awan. Angin juga tidak bertiup kencang dan ini menambah suhu semakin panas,” ujarnya.(wln/fat)
Budi Sugiharto - detikSurabaya

Suasana di Juanda/Budi SSurabaya - Pagi ini cuaca di Surabaya panasnya cukup menyengat. Bahkan banyak masyarakat yang terkejut ketika menyaksikan posisi matahari nyaris berada di atas, seperti ketika sudah pukul 11.00 WIB.
Pengamatandetiksurabaya.com, Senin (20/10/2008) pukul 07.30 WIB, posisi matahari tidak seperti biasanya. Bahkan hawanya sudah terasa panas.
Ari Suwita, warga Sidoarjo yang mengantar anaknya ke sekolah di Gedangan biasanya merasakan silau yang luar biasanya ketika menuju ke sekolah anaknya.
“Pagi ini aneh. Ternyata setelah saya lihat ke atas posisi mataharinya sudah naik tinggi seperti tengah hari,” kata Ari yang dihubungidetiksurabaya.com.
Panasnya sinar matahari ini juga menghentikan aktivitas pelajar SDN Percobaan Surabaya di Gedangan Sidoarjo.
“Olah raga khusus kelas satu dialihkan di ruangan karena di luar panas sekali,” kata Ari yang mendapat kabar tersebut dari sesama wali murid yang sedang menunggu putra-putrinya.(gik/gik)









